Selasa, 01 Mei 2012

Kutipan dari buku "that's all' tulisan istri Pepeng

Air mata

Saudaraku, banyak orang berpendapat mengalirkan air mata, identik dengan perempuan. Juga, identik dengan kelemahan, cengeng dan banyak label yang mengacu pada kerapuhan. Benarkah begitu? Sejak dulu saya tidak sependapat!

Dua tahun belakangan ini pendapat saya menguat. Hari ini saya semakin yakin mengalirkan air mata adalah signal, anugerah yang tiada duanya. Signal dari Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Menangis adalah manifestasi dari kemahalembutan Allah Sang Khalik.

Saudaraku, insya Allah setiap orang pernah merasakan aliran aneh yg membuat air mata kita mengalir. Penyebabnya bisa apa saja. Membaca kisah hidup seseorang, mendengar pernyataan orang, atau melihat penderitaan orang. Bahkan, tanpa sebab yang jelas tiba-tiba air mata kita mengalir. Bahkan, mendengar sebuah kabar yang sangat menyenangkan pun, kadang air mata bergulir menetes.

Berbahagialah mereka yang selalu menyebut asma Allah setiap mengalirnya air mata. Karena, kita selalu ingat dari mana sumber kelembutan yang kita miliki itu.

Mungkin kita pernah mengalami masa di mana kita tidak sempat mengalirkan air mata. Ketika cobaan datang dan menyesakkan dada, kita tidak menangis. Melihat kepedihan orang--lalu mencoba berempati seolah kitalah yang menanggung kepedihan itu--air mata tak setitik pun menetes. Benarkah itu hebat?

Mungkin ya, tergantung dari mana kita melihatnya. Walau saya tidak menolak bahwa siapa pun boleh mengalirkan air mata, tapi pernah saya berpikir: ''Menangis? Tak sempatlah bagi saya untuk menangis.'' Namun, hari ini saya sadar, berarti saya adalah orang yang tidak sempat melembutkan hati.

Ya Allah, maafkan keangkuhan hamba. Ya Latief, lembutkan hati hamba untuk bisa merasakan semua takdir-Mu tanpa harus bersedih. Kuatkan signal hati hamba ya Rahman, ya Rahim, agar hamba selalu bisa menangkap dengan cerdas semua tanda-tanda kebesaran-Mu tanpa harus merasa kecil hati, lemah, dan ketakutan. Jadikanlah air mata hamba sebagai tanda kedekatan hamba dengan-Mu.

Akhirnya mendung di mata tak terbendung lagi. Meringankan semua rasa yang berbaur menjadi satu, melihat begitu banyak bencana datang silih berganti di muka bumi ini. Peliharalah kami ya Muhaimin. Amin yaa mujibass saailiin.

Wallahu a’alam bisshowab
Barokallah fikum wa ahlikum
Di Cinere, hari ini 4 Desember 2006
========================

Masya Allah alangkah indahnya jika kita memiliki hati lembut yang sanggup bermesraan dengan Kekasih kita yang Haqiqi Allah Subhanahuwwat’ala…
Pernahkah kita meneteskan Air Mata karna merindukan Allah?
Pernahkah kita meneteskan Air Mata saat mendengarkan Ayat-ayat Allah?
Pernahkah kita meneteskan air Mata saat sholat?
Pernahkah kita meneteskan Air Mata saat merenung bagaimana gelapnya alam kubur?
Pernahkah kita meneteskan Air Mata saat mengingat Alam Mahsyar dan Hari Hisab?

Jika pernah, maka Air mata itu adalah Air Mata termahal yang ada di Muka bumi ini, karena dengan air mata akan kita peroleh banyak imbalan dari Sang Maha Lembut.

Seperti sebagian hadits Rosul, tentang air mata, yang saya kutip dari artikel ustadz Abi Makki salah seorang sahabat dan teman Peng berdiskusi masalah iman dan Islam.

“…..Ada tujuh orang/golongan yang Alloh Subhanahuwwata’ala lindungi dimana pada hari itu tidak ada yang bisa melindungi kecuali hanya perlindungan Alloh saja,(dan salah satunya di sebutkan disana adalah)seseorang yang mengingat Alloh dalam kesendiriannya lalu berlinanglah Air matanya…..” Saya semakin bersyukur akan keadaan Peng sekarang. Dan semakin kagum akan peran air mata dalam kehidupan kita setelah membaca dalil-dalil pendukung baik hadits maupun al-Qur’an.

Berikut ini salah satu hadits yang diriwayatkan oleh Imam Attarmidzi. Disusun ustadz Abi Makki setelah membaca artikel Peng dan dijadikan bahan dalam setiap pengajian-pengajiannya.

“……Dua mata yang tidak akan pernah tersentuh api neraka. mata yang menangis karna takut pada Alloh dan mata yang selalu berjaga di Jalan Alloh….”

Saudaraku, jika kita sulit meneteskan air mata atau belum pernah meneteskan air mata. Rasanya pantaslah jika mulai sekarang kita pertanyakan. Ada apa gerangan dengan nurani kita……?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar