Selasa, 01 Mei 2012

KATA PENGANTAR (di buku that's all-Tami istriku)

oleh Pepeng Soebardi pada 14 Maret 2010 pukul 1:18 ·
Kata Pengantar


Utami Mariam Siti Aisyah. Begitu nama istri saya. DI KTP namanya Utami Sutoto. Tmee nama gaulnya. Tami Ferrasta untuk label produknya sebagai disainer pakaian muslim. Dan, dua tahun belakangan ini saya memanggilnya Dik Uta. Panggilan sayang saya untuk dia. Sejak saya tidak bisa keluar dari goa saya. Sejak saya sadar bahwa ada permintaan khusus dari dia.
“Kenapa sih koq kamu itu garing banget. Masak udah 25 tahun kawin belum juga ada kata-kata sayang. Kata cinta dari kamu,” begitu dik Uta selalu menuntut saya selama 23 tahun. Sabar sekali. Heboh kan?
Jawaban saya selalu bermacam-macam. Lupa.
Jawaban yang selalu saya ingat adalah,
“Saya mau sih. Kan harus spesial. Harus yang menggambarkan Pepeng. Harus indah. Tapi semua kata-kata udah dipake advertising agency buat iklan mereka.
“Abis gimana dong?” tanya saya berkelit.
Saya ingat ketika pertama kali saya memanggil dik Uta. Tami berkaca-kaca. Mungkin bahagia. Mungkin terharu. Mungkin kesel nunggunya kelamaan. Saya tidak tahu. Karena saya tidak bertanya. Belakangan saya tahu setelah saya bertanya. Itupun setelah setahun berlalu. Gila ya. Pantes dik Uta selalu bilang saya garing. Karena kalau urusan mesra-mesraan nilai saya D minus. Padahal saya paham sekali bahwa hanya melalui kata-katalah makna itu terwujud.
Masih mengenai panggilan sayang itu. Saya tahu bahwa dik Uta senang, bahagia, terharu, saat dikUta menerima award dari Cap Lang.
Event itu disiarkan melalui Indosiar. Tami terkejut waktu ada adegan saya membacakan puisi. Memang sudah direkam diam-diam

“Dua orang mahasiswa mengikat cinta dalam perkawinan untuk menghindari berbagai hubungan yg dilarang sang Khalik.
Hari itu 30 okt 1983, si pria 29 tahun dan gadisnya 22 tahun.

Dua orang mahasiswa mengikat cinta dalam perkawinan untuk mendapat keturunan seperti yang dipertintahkan sang Khalik.
Anak pertamanya lahir, si bapak mengurus, menjaga malam hari, mengganti popok & memandikan.
Si Ibu menyusui. Mereka masih muda dan saling menyinta. Si pria 32 tahun dan kekasihnya 25 tahun.

Si pria sudah sarjana, setelah 10 tahun, setelah mempunyai anak dua. Mereka masih muda dan saling menyinta, si pria 34 tahun dan kekasihnya 27 tahun.

Si pria sudah bekerja, kekasihnya sudah sarjana, anak mereka sudah 4. Hari itu mereka memasuki rumah yang diidamkan oleh setiap keluarga. Mereka masih bugar dan saling menyinta. Si pria 42 tahun dan kekasihnya 35 tahun.

Hari ini si pria 54 tahun, ia tergeletak karena sakitnya didampingi oleh kekasihnya yang 47 tahun, tidak muda lagi menjelang ulang tahun perkawinan mereka yang ke 25.
Dalam sakitnya berkelebat semua kenangan dengan kekasihnya. Dalam sakitnya ia
menulis untuk kekasihnya:

“Dik Uta,” demikian panggilan kesayangan sang pria setelah sakit untuk kekasihnya yang bernama Utami
“Saya tidak akan pernah lupa ketika awal penyakit itu datang kamu menenangkan saya dengan kata-kata
"Kita sedang menjalani peran baru"
Subhanallah, dik Uta kata-kata itu sangat menjadi inspirasi untuk saya menjalani sakit saya. Dan, saya selalu berdoa,
"Ya Allah berilah kecerdasan untuk kami agar kami selalu melihat semua ketetapanmu melalui sudut pandang yang membahagiakan".
Peran Baru, itu adalah salah satu sudut pandang yang cerdas dan membahagiakan
Ahh di Uta, teralu banyak dan panjang jika saya tulis betapa rasa terima kasih atas ketegaranmu menjalani peran baru ini.
Saya tahu dik Uta sedih tapi kamu tetap tegar
Saya tahu dik Uta takut, tapi kamu tetap tegar
Saya tahu dik Uta lelah tapi kamu tetap tegar, mengurus saya, membersihkan, dan membalik badan saya setiap 1 jam di malam hari.
Saya tahu dik Uta ingin jalan-jalan untuk hilangkan jenuh tapi kamu tetap tegar mendampingi saya karena saya tidak bisa ditinggal terlalu lama sendiri.
Saya tahu dik Uta selalu mengharapkan kata-kata cinta dari saya tapi kamu tetap tegar walau kamu tak pernah mendengar kata-kata itu.
Hari ini kamu akan mendengarnya dari mulut saya
“Dik Uta, aku cinta kamu tanpa batas”
“Saya akan selalu bahagiakan kamu tanpa batas,”
“Saya akan selalu ada untuk kamu tanpa batas,”
Kelak kalau saya sudah bisa jalan, kita akan pergi kemanapun kamu mau
Yang selama ini hampir tidak pernah kita lakukan.
Dik Uta, pikirkanlah yang terbaik tentang cita-cita kita karena Allah SWT berfirman:
"Aku sebagaimana prasangka hambaKu"

Begitu ungkapan cinta saya. Begitu bunyi perasaan yang saya pendam sekian lama. Saya ucapkan, tuntas. Bahkan di hadapa ratusan penonton di studio. Dan, jutaan pemirsa. Hati ini puas sekali.
Sepulangnya dari Indosiar saya tanyakan tentang puisi saya.
“Pokoknya campur aduk deh. Susah ngomongnya,” katanya tersipu-sipu dangan mata yang berkaca-kaca.
“Aneh, tersipu-sipu koq bisa nangis ya?” batin saya tidak mengerti. Barangkali kalau dik Uta dengar kalimat saya dia akan panjang pendek menggurui saya soal perempuan. Dan, selalu ditutup dengan
“Dasar laki-laki garing!”
Setiap membaca puisi tersebut, mata saya selalu (ikutan) berkaca-kaca. Lalu terpikir membuat sebuah buku untuk hadiah perkawinan perak kami. Mulai saya susun.
Saat mulai menulis, suatu hari dik Uta bercerita.
“Tadi mbak Ati dari Cicero Publisher nelpon. Dia minta saya menulis buku tentang kamu.”
“Pepeng di mata istrinya, Tami Ferrasta, setelah mengarungi 25 tahun perkawinan. Begitu kira-kira isinya,” kata Tami gembira.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar