Selasa, 01 Mei 2012

Selama Pepeng Sakit, Sang Istri Selalu Mendampingi

Bertahun-tahun Pepeng harus menjalani harinya dengan kursi roda. Bahkan, jika penyakitnya kumat, ia pun tak jarang hanya mampu berbaring di ranjang. Meski begitu, sang istri selalu setia mendampinginya.

Penyakit multiple sclerosis memang sudah lama menjangkiti tubuh komedian bernama asli Ferrasta Soebardi itu. Penyakit langka tersebut juga dikabarkan sangat susah untuk disembuhkan.

Namun, Pepeng tak pernah kehilangan sosok sang istri, Tami. Selama menderita penyakit itu pun Tami tak pernah berhenti memperhatikan pria 56 tahun itu.

"Kalau lagi kritis memang kondisinya menyedihkan, sering tidak mampu menahan sakit. Tapi istrinya sangat sabar, sangat telaten dan setia mendampinginya," ujar sahabat Pepeng ketika menjadi penyiar radio, Maman dihubungi melalui telepon, Kamis (16/6/2011).

Sebelumnya Maman juga menyertakan SMS yang ia terima beberapa saat lalu dari Pepeng. Dalam pesan tersebut, Pepeng mengaku sedang menjalani masa kritis.

Takhlukkan penyakitnya dengan semangat

Hujan rintik-rintik turut menyirami sebuah rumah asri di kawasan Cinere akhir Desember lalu. Ketika Farmacia berkunjung, , si empunya rumah, Ferrasta Soebardi, menyambut dengan ramah. Di atas kursi rodanya.
"Saya menderita multiple sclerosis," kata pria 51 tahun yang terkenal dengan gayanya saat membawakan kuis jari-jari. Pepeng, sapaan akrabnya, sejak enam bulan lalu, tidak mampu lagi beraktivitas seperti sediakala . Gerakan kakinya mesti ditopang oleh kursi roda. Meski begitu, sambil berbincang nampak Pepeng leluasa menggerakkan tangan , badan, ataupun kepalanya. Penyakit ini, menyerang ruas saraf belakangnya, yang menyebabkan kelumpuhan pada kaki.
Berawal pada bulan Juli 2005 lalu, kakinya mendadak tidak bisa digerakkan yang menyebabkan ia terjatuh. Segera ia dibawa ke rumah sakit. Sempat diduga ia menderita diabetes atau ada tulang saraf yang terjepit. Namun setelah diperiksa, hal itu tidak terbukti. Akhirnya, Pepeng dibawa ke ahli saraf RSCM. Prof. Dr. dr. Yusuf Misbach, SpS. Ia menjalani serangkaian pemeriksaan dengan menggunakan MRI dan pengambilan cairan sumsum tulang belakang. 9 November, vonis itu datang. Pepeng positif terkena multiple sclerosis.
Penyakit yang belum diketahui penyebabnya ini, datang dan pergi mengusik penderitanya. Faktor emosi sangat berperan pada timbulnya penyakit ini. Itu yang dirasakan Pepeng. Hal sekecil apapun yang mengganggu pikirannya, akan membuatnya 'kambuh'. Jangankan kata-kata yang bisa menyinggung perasaan, "Saya menonton televisi, acaranya tidak saya suka, maka penyakit ini timbul." Jika timbul, maka Pepeng merasa tegang hingga ke ruas lehernya. "Saya tidak punya power. Tidak bisa bergerak," katanya. Masa kambuhnya bisa datang dua hari sekali bahkan sehari dua kali.
Pengobatan menjadi masalah tersendiri. Interferon beta, obat untuk penyakit ini hanya sanggup memperpanjang masa remisi penderita. Harganya pun mahal sekali, mencapai Rp 10.400.000 untuk setiap 15 hari. Pepeng yang sempat mencobanya, mengaku "berat". Kini, dengan dipandu seorang dokter di Bumi Serpong Damai, Pepeng menjalani terapi makanan. Makanan yang mengandung tepung, misalnya nasi dan kegemarannya menikmati sop kambing, ia hindari. Konsumsi sehari-hari didominasi sayur mayur seperti brokoli dan tomat. Tidak ketinggalan, vitamin C dosis tinggi, Omega 3, coenzyme 100 mg, dan vitamin E 400 IU sebagai menu kesehariannya.
Untuk terapi fisik, kakinya yang lumpuh terus ia latih untuk bergerak. Setiap harinya, seusai sholat subuh hinga menjelang pukul tujuh, ia melakukan sit up dengan kaki ditekuk di pembaringan. Hasilnya? "Sekarang saya sudah bisa menggerakkan kaki saya seperti ini," ujarnya sambil meluruskan kaki lantas mengangkatnya. Pepeng juga sudah mampu berdiri selama 60 hitungan atau kira-kira satu menit, sebanyak tujuh kali dalam sehari. Tidak hanya itu. "Pernah saya merasa emosi. Namun, penyakit saya nggak kambuh," katanya.
Semangat yang dimiliki Pepeng mungkin salah satu faktor yang mempengaruhi kesembuhannnya. Ia tetap optimis melewati hari-harinya. Tidak ada kesan sedih apalagi putus asa dari nada bicaranya. Senyum dan tawa menyertai tiap ucapannya. Berbicara dengannya, seolah berhadapan dengan orang sehat, jika tidak memperhatikan kursi roda yang digunakannya. Pepeng berusaha tetap aktif melakukan kegiatannya. Kini, ia sedang menyelesaikan tesis untuk merampungkan S2 psikologinya di Universitas Indonesia . "Saya selalu ingin sehat," katanya. "Jika tidak semangat, wah…bisa habis!"
Itu juga yang selalu ia katakan kepada mereka yang menderita penyakit yang sama. Pepeng kerap melakukan komunikasi bahkan dengan mereka yang berdomisili di kota lain, misalnya Solo. Ia rajin membuka internet untuk melahap informasi yang berguna untuk kesembuhannya. Tertarik membentuk perkumpulan multiple sclerosis? "Kalau di dunia kan sudah ada. Tapi kemarin ada seorang bapak yang istrinya menderita MS, kita ngobrol-ngobrol ada pembicaraan ke arah sana."
Bapak empat anak ini menyebut keluarga sebagai factor utama kesembuhannya. Menurutnya, jika seseorang menderita sakit, maka yang hebat adalah orang-orang yang mendampinginya. Pepeng memuji istrinya, Tami Ferrasta, yang katanya sanggup membagi alokasi waktu, dana, dan perasaan. "Istri saya adalah suster terbaik," katanya tergelak.

KATA PENGANTAR (di buku that's all-Tami istriku)

oleh Pepeng Soebardi pada 14 Maret 2010 pukul 1:18 ·
Kata Pengantar


Utami Mariam Siti Aisyah. Begitu nama istri saya. DI KTP namanya Utami Sutoto. Tmee nama gaulnya. Tami Ferrasta untuk label produknya sebagai disainer pakaian muslim. Dan, dua tahun belakangan ini saya memanggilnya Dik Uta. Panggilan sayang saya untuk dia. Sejak saya tidak bisa keluar dari goa saya. Sejak saya sadar bahwa ada permintaan khusus dari dia.
“Kenapa sih koq kamu itu garing banget. Masak udah 25 tahun kawin belum juga ada kata-kata sayang. Kata cinta dari kamu,” begitu dik Uta selalu menuntut saya selama 23 tahun. Sabar sekali. Heboh kan?
Jawaban saya selalu bermacam-macam. Lupa.
Jawaban yang selalu saya ingat adalah,
“Saya mau sih. Kan harus spesial. Harus yang menggambarkan Pepeng. Harus indah. Tapi semua kata-kata udah dipake advertising agency buat iklan mereka.
“Abis gimana dong?” tanya saya berkelit.
Saya ingat ketika pertama kali saya memanggil dik Uta. Tami berkaca-kaca. Mungkin bahagia. Mungkin terharu. Mungkin kesel nunggunya kelamaan. Saya tidak tahu. Karena saya tidak bertanya. Belakangan saya tahu setelah saya bertanya. Itupun setelah setahun berlalu. Gila ya. Pantes dik Uta selalu bilang saya garing. Karena kalau urusan mesra-mesraan nilai saya D minus. Padahal saya paham sekali bahwa hanya melalui kata-katalah makna itu terwujud.
Masih mengenai panggilan sayang itu. Saya tahu bahwa dik Uta senang, bahagia, terharu, saat dikUta menerima award dari Cap Lang.
Event itu disiarkan melalui Indosiar. Tami terkejut waktu ada adegan saya membacakan puisi. Memang sudah direkam diam-diam

“Dua orang mahasiswa mengikat cinta dalam perkawinan untuk menghindari berbagai hubungan yg dilarang sang Khalik.
Hari itu 30 okt 1983, si pria 29 tahun dan gadisnya 22 tahun.

Dua orang mahasiswa mengikat cinta dalam perkawinan untuk mendapat keturunan seperti yang dipertintahkan sang Khalik.
Anak pertamanya lahir, si bapak mengurus, menjaga malam hari, mengganti popok & memandikan.
Si Ibu menyusui. Mereka masih muda dan saling menyinta. Si pria 32 tahun dan kekasihnya 25 tahun.

Si pria sudah sarjana, setelah 10 tahun, setelah mempunyai anak dua. Mereka masih muda dan saling menyinta, si pria 34 tahun dan kekasihnya 27 tahun.

Si pria sudah bekerja, kekasihnya sudah sarjana, anak mereka sudah 4. Hari itu mereka memasuki rumah yang diidamkan oleh setiap keluarga. Mereka masih bugar dan saling menyinta. Si pria 42 tahun dan kekasihnya 35 tahun.

Hari ini si pria 54 tahun, ia tergeletak karena sakitnya didampingi oleh kekasihnya yang 47 tahun, tidak muda lagi menjelang ulang tahun perkawinan mereka yang ke 25.
Dalam sakitnya berkelebat semua kenangan dengan kekasihnya. Dalam sakitnya ia
menulis untuk kekasihnya:

“Dik Uta,” demikian panggilan kesayangan sang pria setelah sakit untuk kekasihnya yang bernama Utami
“Saya tidak akan pernah lupa ketika awal penyakit itu datang kamu menenangkan saya dengan kata-kata
"Kita sedang menjalani peran baru"
Subhanallah, dik Uta kata-kata itu sangat menjadi inspirasi untuk saya menjalani sakit saya. Dan, saya selalu berdoa,
"Ya Allah berilah kecerdasan untuk kami agar kami selalu melihat semua ketetapanmu melalui sudut pandang yang membahagiakan".
Peran Baru, itu adalah salah satu sudut pandang yang cerdas dan membahagiakan
Ahh di Uta, teralu banyak dan panjang jika saya tulis betapa rasa terima kasih atas ketegaranmu menjalani peran baru ini.
Saya tahu dik Uta sedih tapi kamu tetap tegar
Saya tahu dik Uta takut, tapi kamu tetap tegar
Saya tahu dik Uta lelah tapi kamu tetap tegar, mengurus saya, membersihkan, dan membalik badan saya setiap 1 jam di malam hari.
Saya tahu dik Uta ingin jalan-jalan untuk hilangkan jenuh tapi kamu tetap tegar mendampingi saya karena saya tidak bisa ditinggal terlalu lama sendiri.
Saya tahu dik Uta selalu mengharapkan kata-kata cinta dari saya tapi kamu tetap tegar walau kamu tak pernah mendengar kata-kata itu.
Hari ini kamu akan mendengarnya dari mulut saya
“Dik Uta, aku cinta kamu tanpa batas”
“Saya akan selalu bahagiakan kamu tanpa batas,”
“Saya akan selalu ada untuk kamu tanpa batas,”
Kelak kalau saya sudah bisa jalan, kita akan pergi kemanapun kamu mau
Yang selama ini hampir tidak pernah kita lakukan.
Dik Uta, pikirkanlah yang terbaik tentang cita-cita kita karena Allah SWT berfirman:
"Aku sebagaimana prasangka hambaKu"

Begitu ungkapan cinta saya. Begitu bunyi perasaan yang saya pendam sekian lama. Saya ucapkan, tuntas. Bahkan di hadapa ratusan penonton di studio. Dan, jutaan pemirsa. Hati ini puas sekali.
Sepulangnya dari Indosiar saya tanyakan tentang puisi saya.
“Pokoknya campur aduk deh. Susah ngomongnya,” katanya tersipu-sipu dangan mata yang berkaca-kaca.
“Aneh, tersipu-sipu koq bisa nangis ya?” batin saya tidak mengerti. Barangkali kalau dik Uta dengar kalimat saya dia akan panjang pendek menggurui saya soal perempuan. Dan, selalu ditutup dengan
“Dasar laki-laki garing!”
Setiap membaca puisi tersebut, mata saya selalu (ikutan) berkaca-kaca. Lalu terpikir membuat sebuah buku untuk hadiah perkawinan perak kami. Mulai saya susun.
Saat mulai menulis, suatu hari dik Uta bercerita.
“Tadi mbak Ati dari Cicero Publisher nelpon. Dia minta saya menulis buku tentang kamu.”
“Pepeng di mata istrinya, Tami Ferrasta, setelah mengarungi 25 tahun perkawinan. Begitu kira-kira isinya,” kata Tami gembira.

Pepeng Raih Lifetime Achievement Anugerah KPI

Metrotvnews.com, Jakarta: Pembacawa acara dan aktor gaek, Ferrasta 'Pepeng' Soebardi meraih Lifetime Achievement dari Komisi Penyiaran Indonesia (KPI), dalam Malam Anugerah KPI di Gedung TVRI, Jakarta, Selasa (6/12). Penghargaan tersebut didedikasikan bagi kiprahnya di dunia televisi Tanah Air.

Penghargaan itu diberikan langsung Wakil Presiden Boediono kepada istri Pepeng, Utami Mariam Siti Aisyah. Pepeng tak dapat hadir karena masih dalam perawatan. Ia menderita multiple sclerosis.

Lelaki kelahiran Sumenep, Madura tahun 1954 itu masuk ke dunia hiburan dengan bergabung dengan Sersan Prambors yang disiarkan oleh Radio Prambors. Karier filmnya, antara lain membintangi film Rojali dan Juleha (1979), Sama-Sama Enak (1986), dan Anunya Kamu (1986).

Anugerah KPI, juga diberikan untuk 6 kategori penghargaan kepada stasiun televisi, yakni program anak terbaik, investigasi, talkshow, dokumenter, sinetron lepas, dan keberagaman.

MULTIPLE SCLEROSIS adalah penyakit yang diderita oleh Pepeng

Sklerosis multipel atau sklerosis ganda (bahasa Inggris: disseminated sclerosis, encephalomyelitis disseminata, multiple sclerosis, MS) merupakan suatu kelainan peradangan yang terjadi pada otak dan sumsum tulang belakang yang disebabkan oleh banyak faktor,terutama focal lymphocytic infiltration (sel T secara terus-menerus bermigrasi menuju lokasi dan melakukan penyerangan seperti yang layak terjadi pada setiap infeksi) dan berakibat pada kerusakan mielin dan akson.

Pada awalnya, setiap peradangan yang terjadi berangsur menjadi reda sehingga memungkinkan regenerasi selaput mielin. Pada saat ini, gejala awal MS masih berupa episode disfungsi neurologis yang berulang kali membaik.

Walaupun demikian, dengan berselangnya waktu, sitokina yang disekresi oleh sel T akan mengaktivasi sejumlah mikroglia, dan astrosit[3] sejenis fagosit yang bermukim pada jaringan otak dan sumsum tulang belakang, dan menyebabkan disfungsi sawar otak serta degenerasi saraf kronis yang berkelanjutan.

Secara klinis, akan terjadi akumulasi progresif  seperti masalah penglihatan, kelemahan pada otot, penurunan daya indra, depresi, kesulitan koordinasi dan berbicara, rasa sakit dan bahkan kelumpuhan.

Secara paraklinis, ditemukan defisiensi kompleks I rantai pernafasen di dalam mitokondria,[5] dan terjadi kerusakan akson dan lebam pada otak dan sumsum tulang belakang akibat peradangan fase akut[3] dan gliosis yang terjadi berulangkali pada akson dan glia.[2] Rasio IL-12 dan IFN-gamma dalam darah juga mengalami peningkatan.

Pepeng Dekati Anak Pakai Konsep Islam Kapanlagi

Sebagai seorang Ayah dari 4 anak, Pepeng tergolong bapak yang menyayangi keluarga. Dia sangat dekat dengan anak-anaknya tersebut. Pemilik nama asli Ferrasta Soebardi ini mengaku menggunakan konsep Islam dalam melakukan pendekatan kepada anaknya.
"Saya pakai konsepnya Islam justru. 7 tahun pertama, 7 tahun kedua giving value, di 7 tahun ketiga bersahabat dengan anak, itu yang paling sulit. Di saat bersahabat dengan anak-anak saya terutama yang paling kecil, saya dalam keadaan sakit. Tapi malah lebih efektif," terangnya.
Lebih lanjut Pepeng mengatakan bahwa tak ada batasan antar dirinay dengan anak. Di mata anak-anaknya pun sosok Pepeng adalah figur Ayah sekaligus sahabat sebagai tempat curhat.
"Enggak ada batasan. Dari kecil, mereka 3 tahun, saya selalu jadiin mereka anak tunggal, pergi berduaan aja. Saya suka berbicara, nak ini omongan ini antara bapak dan anak ya, ini antara laki-laki dan laki-laki ya. Setelah tua, itu bisa di recall. Bisa buat curhat," paparnya.
Meski kesehatannya tak memungkinkan untuk menemani sang buah hati, Pepeng hanya bisa memanjatkan doa kepada anak-anaknya.
"Doa saya kebanyakan untuk anak-anak. Seperti doa Rasulullah, berilah kami hidayah Mu, ketakwaan, kesopanan, dan kekayaan. Itu aja selalu," tukasnya saat ditemui di Ballroom Hotel Kempinski, jakarta Pusat, Selasa (2/8) malam

Masa kecil Pepeng Soebardi

Sepeda + Sayap = Sukses!

Pepeng kecil pernah punya sepeda.

Sepeda mini berwarna merah mentereng dengan ukuran 3x4 yang bisa dinaikin berdua. Dan Pepeng sayang banget ama sepedanya ini. Kemanapun Pepeng pergi, sepedanya selalu dikayuh dengan mesra, ga pernah diseret. Kalo mereka berdua udah ketemu, udah kayak sodaraan. Sama-sama cungkring.

Sebelumnya, Pepeng sama sekali ga bisa nyetir sepeda. Pas pertama kali nyoba aja, udah keliatan bahwa Pepeng punya potensi untuk membangkitkan kadar kolestelor orang-orang disekelilingnya. Bayangin aja, setiap dikayuh dua puteran, sepedanya selalu lepas kontrol. Malang buat pohon-pohon anggrek yang ditanem engkong.

Semuanya mati kegiles roda sepeda.

Akhirnya kesabaran engkong habis kesedot oleh aura kegelapan yg dipancarin kelakuan biadab Pepeng bersama sepedanya. Besoknya, secara vulgar, sepeda Pepeng udah ga beroda dua lagi, tapi EMPAT!

Ck.. ck.. ck.. benar-benar usaha yang patut dtelanjangi.

Pepeng terbengong-bengong. Engkong tersipu-sipu. Pepeng meratapi sepedanya yang ga bulet sempurna lagi. "Kong, jadi ga keren dong kalo gini!" kata Pepeng di sela ratapan anak tirinya.

"Yah, mo pegimane. Daripade taneman engkong lo kibas semua!"

Pepeng manyun.


Dan hari-hari berikutnya, Pepeng ga berani lagi maen sepeda di halaman depan. Apalagi di depan temen-temennya. "Iiih... Pepeng naek sepeda roda empat! Kalah deh bajaj," begitulah komentar salah satu temenya yang udah fasih nyetir sepeda roda dua. Abis itu, tuh anak kehilangan kaki dan tangannya gara-gara digebukin supir bajaj.

Setelahnya, Pepeng mengalami krisis kepercayaan diri akut. Tiap malem, doi ngigo supaya sepedanya balik lagi seperti sedia kala: beroda dua. Ga cuman itu, Pepeng juga ngerasa bahwa dirinya disisihkan oleh temen-temenya yang udah senior dalem dunia persepedaan gara-gara skill-nya bersepada masih sekelas ama teletabis.

Dan mengingat umur Pepeng yang emang ga jauh ama tingkiwingki, Emosinya pun masih labil dan muncrat-muncrat. Pepeng ga terima disisihkan begitu rupa. Pepeng ga mau selamanya dikira upil dinosaurus berjalan!

"Peng, kita ikut lomba sepeda hias aja!" kata Indra, temen sekelas Pepeng waktu itu ngasih wejangan.

Op! Ide brilian, pikir Pepeng. "Dengan ikut lomba beginian, jelas dong, pamor gw bakal naik," batin Pepeng dalem ati. Ga pake mikir telanjang dada, Pepeng nagngguk.


Seminggu kemudian, Pepeng udah siap dengan sepedanya! Dan diliat dari sudut manapun, sepedanya ga lagi bisa dibilang "biasa."

Sekarang, tuh sepeda udah ga lagi beroda empat... tapi DELAPAN! *Uooh!* Bodi depannya pun dibikin selancip mungkin, mirip pesawat terbang nabrak di nasi tumpeng. Trus atasnya dibolongin biar pala Pepeng yang kegedean bisa nyembul dengan mulus di atas kokpit. Yap! Lengkap sudah kemaluan Pepeng, tinggal didaftarin ke pusat penelitian marga satwa lokal.

Hari perlombaan pun tiba.

Pepeng didaulat jadi peserta terakhir. Ide yang sangat bagus. Kalo ampe sepeda Pepeng disuruh terjun pertama, peserta yang laen jelas bakalan males ikutan lomba gara-gara jijik duluan ngebayangin betapa najongnya bersepeda bertelanjang dada.

Dor! Wasit udah nembak pestol, tanda puteran pertama dimulai. Peserta ( yang rata-rata berbentuk buntelan kentut) pun mulai menggenjot sepeda masing-masing dengan lahap. Ada peserta yang sepedanya mirip kuda lumping, masih lempeng di garis start dengan pasrah.

Pas dideketin, rupanya si peserta keselek beling. Dengan tersiksa, doi dilariin ke rumah duka.

Puteran pertama pun berakhir dengan sukses. Lapangan dikosongin buat peserta-peserta berikutnya.

Eng.. ing.. eng.. munculah di situ, sepeda berbentuk pesawat, beroda banyak, berpilot orang sarap, dan berbau mayat... yak! itu bukan Pepeng. Itu Indra, temennya Pepeng yang sepedanya juga mirip pesawat. Bedanya, pesawat Indra berbahan bakar pelet ikan.

"Peng, kamu yakin ama ini?" kata si Indra sebelum pertandingan dimulai.

Pepeng ngangguk-ngangguk setan. Emangnya ada apa sih diantara dua bocah prematur ini?

Dor! Wasit lagi-lagi nembakin pestol. Sepeda-sepeda pun meluncur dengan deras di lapangan tanah yang berliku-liku. Ga terkecuali Pepeng, yang saat itu lumayan tertinggal di belakang.

Pepeng ga terima. Semangatnya kebakar...
Dan detik berikutnya, Pepeng melesat melewati peserta-peserta yang laen. Uooo!

Jleb. Salah seorang peserta kesenggol sayap pesawat Pepeng. Doi jatoh dan tewas seketika dengan mulut berbusa-busa.

Jleb. Satu lagi kena. Yang ini langsung impoten seketika.

Kini pesertanya tinggal dua. TINGGAL DUA, sodara-sodara! Jreng! Pepeng menempati posisi kedua, sementara Indra masuk posisi satu. Dua-duanya menang... dengan bantuan kuasa kegelapan.

Pulangnya, Pepeng sukses menggondol piala juara harapan 3. Sementara Indra dapet juara harapan sekian sekian sekian. Ga lupa buat yang cidera, dan ga bisa lagi ngelanjutin hidup dengan normal gara-gara ulah Pepeng... dikubur hidup-hidup di lapangan sepeda. *ya enggak lah*

Licik? emang sih... namanya juga anak-anak. Hwhwhw...

That's all folks

Bad Guys and Lovers

Pepeng kecil pernah iseng nelen lem UHU bulet-bulet, pernah tidur di toilet sekolah gara-gara bolos kursus, pernah terserang bisul bertubi-tubi disekujur pantat, bahkan pernah berbisnis ulat bulu di sekolah! Tapi apa kalian tau, bahwa semua itu cuman sebagian kecil dari masa kecilnya Pepeng?

Jadi kalo isinya ga dodol-dodol semua, ada apaan lagi sih, di masa kecilnya Pepeng?

Dibalik kedodolan-kedodolan yang dialami oleh Pepeng pas kecil itu, sebenernya, ada segudang crita lain yang ga kalah seru buat diwartain. Misalnya aja, kisah tentang cinta monyetnya Pepeng yang berakhir dengan super-naas, ato juga kehadiran sosok-sosok antagonis masa kecilnya Pepeng yang selalu bikin Pepeng kecil kewalahan, dan berlusin-lusin kisah konyol lain yang ga bisa disebutin satu-satu.

Nah, biar seru, pertama-tama gw mo ngenalin dulu salah satu tokoh antagonis yang selalu hadir di mimpi-mimpi buruk gw pas kecil, yakni Leo. Leo ini adalah seorang diktator bertampang predator yang hidup di jaman gw SD dulu. Badannya gede abis, ada kali segede Rony Dozer ga pup dua bulan. Trus gayanya, borju abis... apa-apa harus punya duluan, mau Plestesyen, Hape, Komik si botak Hagemaru, semuanya deh.

Parahnya, Leo ga sendirian dalem ngelancarin aksi semena-menanya. Dalem melanglangbuana di dunia perketidakmanuisawian ini, doi ditemenin ama dua sohibnya yang cadas-cadas bernama Adi dan Oki. Dua-duanya sama-sama nyebelin. Dan the worst part... mereka cepet banget bad mud.

Dan kalo udah bad mud, tau kan siapa yang bakal mencret-mencret darah dari idung dan ketek ampe benyek...

Yak. Bener banget... Pepeng as always! T.T


Yang kedua, *ehem... ehem...* gw juga mo ngenalin kalian ama Hanny, seorang cewe di kelasnya Pepeng yang duduk manis dua blok dari kursinya Pepeng. Udah cantik, pinter, tajir, bae pula. Wajar aja dia sering kelayapan malem-malem dan nongkrong di mimpi cowo-cowo kuper kayak Pepeng. Ga kayak Pepeng, Hanny tuh selalu jadi bintang di kelasnya, meskipun terang benderang, tetep aja keliatan bersinar diantara yang laen... tentunya karena seragamnya emang paling ga butek.

Oh iya, Hanny ini critanya adalah cinta monyetnya Pepeng semasa SD dulu. Walopun sekedar cinta monyet, kalo disuruh milih monyet apa Hanny... Pepeng jelas masih milih Hanny daripada monyet. Alesannya, selain bulunya ga serame monyet, setau Pepeng, Hanny juga ga pernah manjatin pohon pisang tetangga en nyolong pisang orang. Bener-bener tipe cewe idaman deh.

...Bad guys and lovers

penasaran ama nasib Pepeng selanjutnya?

Tungguin aja kelanjutannya... yang tetep dodol.

Ikan-ikan dari Engkong

Sepeninggal papinya Pepeng, seisi rumah ceria jadi repot abis gara-gara ulahnya Pepeng. Bayangin aja, tiap jam enem sore, barengan ama beduk mesjid komplek berkumandang, Pepeng selalu ngangis ga karu-karuan. Mending kalo nangisnya masih dalem tahap kewarasan, tapi ini udah nangis, banyak maunya pula. Engkongnya Pepeng ampe semaput dibuatnya.

Kelamaan, engkong udah ga tahan lagi ama jerit tangis biadab Pepeng. Engkong pun jungkir balik, koprol-kipril, buat nyari solusi. Sempet terlintas di benak engkong buat menggantung Pepeng di pohon nanas pas nangisnya kambuh. Namun berhubung kasian (nanasnya), engkong pun mengurungkan niatnya. Oeekk... oekk... tuh kan, Pepeng kecil nangis lagi. Engkong tambah menderita.

"Aduh peng, engkong capek denger nganyian elu... masa kagak ade lagu yang laen?" Engkong berujar dengan penuh nestapa.

Besoknya gara-gara keselnya udah ampe ke ubun-ubun, engkong pun nekat ngebeli ikan kecil-kecil yang banyaaak banget demi ngebuat Pepeng ga nangis. Dan hasilnya, benar-benar di luar dugaan. Pepeng dengan dongoknya mudah banget digosok, eh, disogok. Sambil memandang ikan-ikan di dalem baskom yang mungil, Pepeng tersenyum-ria.

Ikan-ikan itu lucu-lucu banget. Keseluruhan sih warnanya item areng, tapi ga jarang juga ditemuin ikan-ikan yang buntutnya berwarna-warni. Jumlahnya ga keitung, ada kali dua puluhan biji. Kata engkong sih, tuh ikan buat makanan ikan yang lebih gede. Tapi berhubung engkong ga miara ikan, Pepeng pun rela ngemil ikan kecil. *ya enggak lah!*

Hari pertama tuh ikan terdampar di rumah, Pepeng sukses ngelupain bisnis air mata buaya yang sekian lama digelutinya. Pepeng seneng banget ama piaraannya yang baru. Seharian Pepeng ga mo lepas dari mainannya yang baru ini, bahkan pas makan siangpun, Pepeng harus disuapin segala gara-gara sibuk bermain ama si ikan.

Malemnya, pas lagi nonton bareng di ruang tamu, ga sengaja Pepeng ngeliat video klip "Joshua" di telepisi. Kalo ga salah sih, judulnya "diobok-obok". Di situ diliatin adegan Tukul en Joshua ngobok-ngobokin tangannya di ember aer sambil nyanyi...

diobok-obok aernya diobok-obok... ada ikannya kecil-kecil pada mabok...
Nah, ini nih biang keroknya. Gara-gara diracuni oleh tuh lagu, pagi-pagi buta, Pepeng udah ngejogrok di halaman belakang rumahnya dengan setengah sadar. Masih setengah tidur, Pepeng mencoba ngeraba-raba ember berisi ikan yang dibeliin engkong kemaren. Hap. Setelah ketemu, ember itu ditaruh di hadepannya.

Dengan kecepatan kilat, Pepeng ngemasukin tangannya yang manis-manis ke dalem ember. Detik berikutnya tuh tangan udah berputar-putar ria di dalem ember dengan kecepat tinggi. Lama-lama, aernya pun berputar ngebentuk pusaran dahsyat. Wuis! Pepeng terkesima.

Setelah puas, dengan hati berbunga-bunga, Pepeng bersiap siap berangkat sekolah.


***

Pulangnya, ga pake makan siang - makan siang segala, Pepeng langsung ngibrit ke halaman belakang dengan bringas. Engkong cuman bisa geleng-geleng pala ngeliat kelakuan si bocah ajaib ini. Dengan perasaannya yang campur aduk, engkong duduk nyante di bale-bale sambil memandang aspal jalanan. Belum ada lima menit, engkong dikagetin ama sebuah suara dari belakang rumah.

"Engkoooong!!!!" Tuh kan. Teriakannya makin keras.

Engkong pun berlarian ke halaman demi menemukan Pepeng berjogrok di lante sambil nangis-nangis. Di depannya tergolek ember ikan yang tadi pagi masih ramai dengan canda-tawa ikan-ikan mungilnya si Pepeng. Tangis Pepeng makin menjadi-jadi begitu ngeliat engkong nyempil dari pintu rumah. Ada apa gerangan?

"Koooong... engkoooong... i-ikan Pepeng... i-ikannya... mati semuaaaa!!"

Ya oloh. Engkong sedikit kaget. Lalu dengan tatapan penuh curiga, engkong merhatiin tuh ember. Olala! Betapa terkejutnya lagi engkong pas ngedapetin bahwa ikan-ikannya udah mengambang dengan vulgar di permukaan aer. Ga ada satupun yang bergerak. Semuanya mati.

Pepeng ga stop-stop nangis. "Kong, idupin lagi! Ga mau tau... pokoknya idupin lagi... Uwaaa!" Pepeng menjerit penuh sesal. Dalem hatinya dia tau, bahwa eksperimen kecilnya tadi pagilah yang telah ngebuat ikan-ikan itu mati dengan sukses. Dan Pepeng ngerasa bersalah banget, kepada ikan, juga kepada dirinya sendiri. Pepeng mau ikan-ikan itu kembali berenang dengan riang di ember kecilnya.

Tapi apalah daya, enkong bukanlah Tuhan, dan Tuhan bukanlah engkongnya Pepeng. Daripada ngidupin ikan-ikannya yang udah mati, engkong malah ngasih pesen, "Peng, ada satu hal yang orang kayak engkongmu ini ga bisa lakuin, yakni ngebalikin waktu..."

"...nyesel kan sekarang?"

Pepeng malah ngelingker di kakinya engkong sambil sesegukan bak kucing sembelit. Masih juga belom stop nangis. Ngeliatnya, engkong jadi iba, "udahan ye, Peng... engkong ga tahan liat elu nangis mulu. Besok engkong beliin ikan yang baru deh."

"beneran, kong?" Engkong manggut.

Pepeng langsung tersenyum riang ngedenger kata-kata terakhir engkongnya. Diapusnya aer mata kudanil dari pipinya yang tulang semua. Tapi begitu ngeliat ikan-ikan yang udah ditewasinnya itu, Pepeng jadi sedih lagi.

"udah deh, kong... ga usah beliin lagi," kata Pepeng sambil natep genangan aer penuh ikan mati didepannya. Dia gak mau ada korban lagi yang jatuh akibat ulahnya yang ajaib. Cukup ini aja, pikirnya...

Dan selepas ngebuang ikan-ikan itu ke got di depan rumah, keliatan dari surga, ikan-ikan kecil yang udah mati itu tersenyum dengan riang di kolamnya yang baru. Mereka bahagia udah bisa ngorbanin nyawanya buat ngasih sesuatu buat mahluk laen... pelajaran.

Sejak saat itu, Pepeng kecil ga nangis lagi.

*sob... sob...*

Garis Start

Pepeng kecil baru aja ditinggal pergi papinya ke Jakarta. Waktu itu Pepeng baru berumur empat taon lebih dikit. Ga banyak yang bisa diinget dari peristiwa naas itu. Yang pasti, sepulangnya dari stasiun bis, Pepeng jadi ga bisa diem. Bawaannya ngangis melulu.

Sesampenya di rumah, mami pun harus bulak-balik nelponin papi supaya nenangin Pepeng. Tapi usaha itu gagal dengan sukses. Abis nutup telpon, nangis Pepeng tambah kenceng. Sekarang suaranya malah saingan ama suara mesin gen-set yang di pasang di bale-bale rumah. Mami tambah panik. Udah dicoba nyumpelin mulutnya pake galon akua, tapi hasilnya musnihil. Nangisnya pepeng yang tadinya mono, jadi full stereo.

Belakangan papi ditelpon lagi. Ga pake nanggung, si papi di suruh pulang ke rumah. Papi sempet kaget ngedengernya. Begitu telpon ditutup, papi langsung melesat bak pahlawan bermupeng dekejer hansip. Dengan bermodalkan genjotan abang-abang becak yang bertaburan di jagat Palembang, papi pun pulang.

"Di, jangan nangis lagi ya. Kan mami malu ama gen-set. Masa cemprengnya saingan gitu sih," kata mami sambil ngebelai-belai rambut-rambut idung Pepeng. Pepeng yang diomongin begitu malah tambah depresi. Dengan dendam dan asmara menggebu-gebu, volume nangisnya digedein. Sekarang suaranya udah satu nada ama gen-set, cuman beda instrumen.

Klek. Pintu kebuka. Papi pulang dengan membawa sejuta harapan. Dengan tas masih disander di pundak, papi menerobos masuk kerumunan. Pepeng terkesiap. nangisnya pun tiba-tiba berubah jadi sengukan. Hik. Hik. Srooot. Hik. Kadang diselingi sedotan iler yang lumayan sukses bersaing ama sedotan wc.

Adegan berikutnya udah bisa ditebak, Pepeng berlarian ala pilem-pilem India buat nyambut pelukan papinya. Tas di pundak papi jatoh ke lante. Papi ikut-ikutan berlari. Sesaat, lintasannya terasa panjaaaaang banget, bahkan diselingi skenario manuver-manuver ringan di sela-sela pohon nanas. Mereka berlari dengan bahagia.

Akhirnya cerita pun berakhir dengan (nyaris) hepi ending. Seperginya papi dari rumah, Pepeng malah nangis super heboh. Papi pun yang pulang ke stasiun nyaris ketinggalan bis. Mami di rumah kelabakan ngurusin anak-anaknya yang rewel-rewel. Dan akhir cerita ini menandakan satu hal... bahwa memori tentang masa kejayaan Pepeng Kecil menajongkan duina, dimulai dari titik ini. *keliatan titiknya?*

Setiap manusia, mau semuda ato setua apa pun, pasti pernah ngerasain jadi anak-anak. Pernah ngerasain gimana enaknya berbugil-ria di tempat rame tanpa malu, ngerasain ga enaknya dimarahin ama orang tua gara-gara meles minum susu, dan segudang peristiwa ajaib laennya. Yang bikin sedih, yang nyenengin, sampe yang nyeremin, semuanya ga akan pernah ilang ditelen waktu. Semuanya kerekam di pojokan otak kita dalem sebuah folder mungil nan meriah... dengan label Masa Kecil...

...folder inilah yang bakal dengan dongoknya, gw sharing buat temen-temen sekalian.

Sebelumnya, gw juga mo ngasih info buat pembacawan dan pembacawati sekalian, bahwa--meskipun bertajuk anak-anak--blog ini berisikan konten-konten eksplisit yang sangat tidak dianjurkan untuk dibaca saat beraktipitas di kolam renang atopun arena tinju. Karena disinyalir dapat menimbukan ambeyen berkepanjangan serta keram bercelimpungan.

Akhir kata, gw beserta seluruh kerabat kerja yang beringas mengucapkan... selamat menikmati!
;)

Prolog si Pepeng Orok

Gelep banget... ga ada lampu ga ada lilin. Semuanya keliatan serba ajeb-ajeb gelep. Gw ga bisa ngeliat apa-apa... Bukan! bukan, gw ga lagi ngumpet di dalem kompresor AC pas mati lampu, apalagi kelelep di septi tank. Tebakan lo pada ngaco. Nih, gw kasih tau yak, saat ini gw lagi dikandungan nyokap gw!

Setelah nanya-nanya ke tukang salon sebelah, ternyata ga kerasa udah delapan bulan lebih gw nyempil di dalem rahim nyokap. Dan asal lo tau, di dalem sana tuh ga seenak yang lo bayangin. Bawaannya beteee mulu *kayak masih inget aja*. Ya, gimana ga bete coba? gw kemana-mana susah, kemana-mana musti nurutin nyokap. Nyokap gw mo ke mana, gw mo ke mini. Nyokap mo ke mini, gw mo ke mana-mana. Duh. ribet deh pokoknya.

Tapi gw rasa semua itu ga bakal lama lagi. Buktinya pas kemaren nyokap gw cek-ap di dukun-beranak langganan, nyokap gw dibilangin bahwa bentar lagi nyokap gw bakal "berenang sambil minum aer" yang bisa diartiin... nyokap keracunan kaporit gara-gara minum aer kolam.

"Hwhwhw... jas kiding... jas kiding," si dukun blekok ini ketawa-ketiwi. Nyokap gw manyun. *dasar edan*

Pokoknya, intinya... gw bentar lagi bakal bebas. Gw bisa ngelancarin misi suci gw di alam ini: Menajongkan Dunia! *senyum drakula* Dunia gw akhirnya ga seluas daon pisang lagi. Dengan semangat menggebu-gebu dan sekaleng aer ketuban kemasan, gw bersumpah: Gw bakal menaikan martabat dan memperjuangkan emansipasi orok seluruh Indonesia! Sudah saatnya orok angkat bicara. Oke, rok?

GYAHAHAHA!...

hening...

*kena turbulensi dikit* Perut nyokap gw tiba-tiba jadi labil bin mustahil. Bilik tempat gw nongkrong ini pun mulai gelonjotan beraneka arah. Mula-mula ke atas, lalu ke bawah, trus ke atas, abis itu lanjutin dengan segi empat, kotak dua kali, segitiga. Gw panik! Rupanya ketawa gw terlalu keras!

AAAAA!!!

Oksigen mulai nipis. Paru-paru gw kesedot iler, eh, salah... entah aer apaan, gw ga ngerti. Yang pasti gw udah bengek ga keru-keruan. Akhirnya dengan despret, gw nendang-nendangin perut nyokap... berharap bisa narik perhatian nyokap gw yang lagi nonton pilem India.

Pak! Byak! Prek!

Akhirnya setelah nerima tendangan bertubi-tubi dari kaki tipe X gw, nyokap gw ngeh juga. Dua detik setelahnya nyokap gw baru ngerasa efek tendangan gw *Aim soriiiii, mii!*. Nyokap gw yang ga tau apa-apa langsung histeris. Nyokap gw syok. Gw ikut-ikutan syok.

Buru-buru nyokap gw dilariin ke rumah dukun beranak sakit terdekat. Selama di perjalanan menuju rumah sakit, gw sempet-sempet nya ngehayal macem-macem. Yang paling banyak kepikiran adalah acara penyambutan gw yang bakalan heboh banget; dari ngundang artis dangdut ibukota, sampe acara jelangkungan bareng! Pokoknya seru dah.

Gw jadi ngelantur jauuuh... Terbayang pula wajah-wajah suster super caem yang udah siap sedia menanti kehadiran gw di luar sono. Wuih! Lengkap dah, kebahagiaan gw! Kalo udah gitu mah, mati pun gw tenang. *lahir aja belom, udah belagu lo, Peng!*

* * *

"Eeegh!..." kedengeran kan? suara merdu nyokap gw. Ckckck... gw jadi terharu ngingetnya. Bener-bener memakan banyak tenaga rupanya ngelahirin seekor kasuari cacat kayak gw. Nyokap.. oh, nyokapku sayang... Byurr. Tuh kan kedengeran bunyi aer di flus... heh? Kok ada aer di flus sih di ruang operasi?

Pintu dibuka. Krek. Rupanya ada seekor dokter sableng abis pup! *yeee* Pas lagi mo cebokan, pejer di iket pinggangnya bunyi... t***t... t***t... "pesen dari suster"...

Pesen suster : PAK! ADA IBU-IBU KECE, CAKEP, BAE, MIRIP SANDRA DEWI, POKOKNYE CIHUY DAH! PS: DOI MO BERSALIN.
Si dokter rada kesel ama suster cecentilan yang satu ini. Abis dibaca, pesenya dibales...

Pesen dokter : Sikatlah gigi dua kali sehari... kalau ingat. *Lho?*

Pesen AA Gym : Jagalah hati... kalo udah kena Lever, susah lho sembuhnya. *Lha?*

Pesen gw : "Dok! Kok malah maen bales-balesan pesen! Nyokap gw gimanaaa??"

Si dokter sableng ini bergegas berlarian keluar WC. Lupa akan kesibukannya mencebok-cebok. Di kepalanya cuman kepikiran urusan pasien. Doi berpegang teguh pada motto: Urusan pasien nomer satu, urusan pribadi ga pake nomer antri. Ckckck... benar-benar dokter yang patut ditelanjangi.

Nyampe di bilik bersalin, dokter langsung bergegas mencari-cari suster ngepot yang ngirim pesen tadi. Mo konpirmasi. Si suster yang dimaksud rupanya lagi nenangin nyokap gw. Bokap gw yang ngintip-ngintip gajebo dari balik gorden pun diusir secara paksa, setelah sebelumnya sukses salah intip selusin pasien hamil laennya. Bokap gw pasrah. Dengan diiringi tatapan sayu nyokap gw, bokap pun berjalan keluar. Bokap gw harap-harap cemas...

Kelambu bilik pun ditutup rapet-rapet. Tiba-tiba si suster centil tadi mendekap idungnya dengan brutal... muka jijai mode: on.

"Fak... fak fokter, afa fau yang fifak fedaf!" Kata si suster sambil meragain gaya wanita biang kamper. Si dokter lalu nyium tangannya sendiri, "Rupanya, ini dia, Biangnya!" si dokter cekikikan sendiri. Dokter dan suster sableng ini pun cekikikan berdua. Satu suara rendah, satu suara perut. Abis itu si dokter pun nyuci tangannya di baskom almunium, ga lama baskomnya berubah jadi kuning. *wot?* Nyokap gw terbelalak.


Sejam lebih berusaha, akhirnya operasi pun selesai. Terakhir pas badan gw udah keluar semua, berat gw ditimbang pake timbangan beras. Keliatan jarum penunjuk berat nunjukin angka 3,5 ons. Gw mo komplen, kenapa harus "ONS?" Gw kencingin si suster buat ngekspresiin kekeselan gw. Suster centil pun kaget. Plak! GW DITAMPAR!

UWAAA!! akhirnya demi ngikutin prosedur, gw pun nangis ngeraung-ngeong. Katanya sih, semakin keras nangisnya, semakin oke bayinya. Gw nangis sekenceng-kencengnya, dan liat hasilnya, ibu-ibu hamil laen yang ada di situ pada mandangin gw dengan pandangan jijai Bajuri. Eh, tunggu bentar... mereka ga liatin gw. MEREKA GA LIATIN GW!

Ternyata mereka terkesiap memandang aer yang dipake buat mandiin gw. Wadah aernya berbentuk bulat lonjong ga beraturan. Bahannya mengkilap mutlak... harusnya sih berwarna silver... tapi kok, kuning?

ALAMAK!

itu kan wadah cuci tangan si dokter sableng tadi! Gw nangis lebih keras.

"Aduh! Dokter... dokter... kayaknya, ada infeksi deh di mulutnya... dari tadi ga bisa nutup, ini aernya buat mandiin mulutnya sekalian yak," kata si suster centil. Dokter sableng mengulum senyum.

Gw langsung pingsan...

"Welcome to the jungle, Peng!"




PS: Meskipun sama-sama keluarnya ngeden, eek dan bayi adalah dua material yang berbeda. Jangan sekali-sekali mensubtitusi satu sama lain, misalnya; mencoba nge-flus bayi anda di dalem lubang jamban. Percaya ama gw, itu ga bakalan berhasil. I've been there before, guys! *mestinya seneng apa sedih sih?* T.T


* * *